Ketika Nafsu Mengejar Kekayaan Mengalahkan Kewajiban Menjaga Sesama Manusia

Ketika Nafsu Mengejar Kekayaan Mengalahkan Kewajiban Menjaga Sesama Manusia
Ketika Nafsu Mengejar Kekayaan Mengalahkan Kewajiban Menjaga Sesama Manusia (Sumber: Pixabay)

MYSEKERTARIS.MY.ID - Kekayaan pada dasarnya bukan sesuatu yang buruk. Uang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, memperoleh pendidikan, membangun usaha, membantu keluarga, bahkan menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain. Masalah muncul ketika keinginan memiliki kekayaan berubah menjadi nafsu yang tidak mengenal batas, hingga kepentingan manusia lain dianggap tidak penting. Pada titik tersebut, kekayaan tidak lagi menjadi alat untuk menjalani kehidupan, tetapi berubah menjadi tujuan yang membenarkan berbagai cara.

Ketika seseorang hanya mengejar keuntungan tanpa mempertimbangkan penderitaan orang lain, hubungan sosial perlahan kehilangan nilai kemanusiaannya. Padahal, kemajuan ekonomi seharusnya tidak hanya diukur dari bertambahnya pendapatan, tetapi juga dari seberapa luas manfaat pembangunan dapat dirasakan masyarakat. World Bank menekankan bahwa pertumbuhan pendapatan rata-rata saja tidak cukup menjadi ukuran pembangunan karena aspek kesejahteraan bersama dan pemerataan juga perlu diperhatikan.¹

Ketika Kekayaan Berubah dari Sarana Menjadi Tujuan Hidup

Ada perbedaan besar antara ingin hidup sejahtera dan terobsesi mengumpulkan kekayaan. Keinginan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik merupakan sesuatu yang wajar. Manusia membutuhkan uang untuk makan, memiliki tempat tinggal, memperoleh pendidikan, menjaga kesehatan, membantu keluarga, dan merencanakan masa depan. Persoalan muncul ketika jumlah kekayaan yang sudah dimiliki tidak pernah terasa cukup. 

Seseorang yang telah memiliki rumah masih ingin memiliki lebih banyak rumah, telah mempunyai satu usaha ingin menguasai usaha lain, telah mendapatkan keuntungan besar masih mencari keuntungan yang lebih besar lagi. Dalam kondisi seperti ini, batas antara kebutuhan dan keserakahan menjadi semakin kabur. Kekayaan yang semestinya menjadi alat untuk menciptakan kebebasan justru dapat berubah menjadi sumber tekanan karena seseorang terus-menerus mengejar angka, status, dan pengakuan sosial.

Nafsu terhadap kekayaan juga dapat mengubah cara seseorang memandang manusia lain. Orang miskin mungkin dianggap tidak penting karena tidak memiliki daya beli, pekerja dipandang hanya sebagai alat produksi, dan lingkungan dianggap sekadar sumber bahan baku yang bisa dieksploitasi selama menghasilkan keuntungan. 

Cara pandang semacam ini berbahaya karena menghilangkan nilai manusia dari hubungan ekonomi. Padahal, kehidupan sosial membutuhkan kepercayaan, kerja sama, dan rasa saling menghargai. OECD menjelaskan bahwa kepercayaan antarmanusia dan terhadap institusi merupakan unsur penting bagi kohesi sosial, kesejahteraan, serta hubungan ekonomi.² Ketika kepentingan pribadi selalu ditempatkan di atas kepentingan bersama, kepercayaan dapat terkikis. Pada akhirnya, seseorang mungkin memperoleh keuntungan finansial, tetapi kehilangan sesuatu yang jauh lebih sulit dibeli kembali: kepercayaan manusia di sekitarnya.

Mengapa Keserakahan Dapat Merusak Hubungan Sosial?

Keserakahan tidak hanya berpengaruh terhadap orang yang memilikinya, tetapi juga dapat menciptakan konsekuensi sosial yang luas. Bayangkan sebuah perusahaan yang hanya mengejar keuntungan dengan menekan upah pekerja, mengabaikan keselamatan kerja, mengurangi kualitas produk, atau membuang limbah secara sembarangan. Dari laporan keuangan, perusahaan mungkin terlihat berhasil karena biaya produksinya rendah dan keuntungan meningkat. 

Namun, jika keberhasilan tersebut dibangun di atas penderitaan pekerja, kerusakan lingkungan, dan kerugian masyarakat, maka keberhasilan tersebut memiliki biaya sosial yang besar. Dalam jangka panjang, praktik seperti itu dapat melahirkan konflik, ketidakpercayaan, ketimpangan, dan penolakan masyarakat. World Bank menjelaskan bahwa ketimpangan yang tinggi dapat membatasi mobilitas sosial serta menghambat pertumbuhan yang inklusif dan pengurangan kemiskinan.³

Persoalan menjadi lebih serius ketika masyarakat mulai menganggap ketidakadilan sebagai sesuatu yang normal. Jika orang melihat bahwa mereka yang memiliki kekuasaan dan kekayaan dapat memperoleh keuntungan dengan mengorbankan kelompok yang lebih lemah, rasa percaya terhadap sistem sosial dapat menurun. Masyarakat kemudian menjadi lebih sinis dan merasa bahwa kerja keras, kejujuran, atau kepedulian tidak lagi memiliki nilai. 

Padahal, kohesi sosial membutuhkan rasa memiliki, kepercayaan, partisipasi, dan keyakinan bahwa kehidupan bersama memiliki aturan yang adil. OECD memasukkan kepercayaan, partisipasi masyarakat, dan rasa aman sebagai bagian penting dalam melihat kohesi sosial.⁴ Karena itu, persoalan keserakahan bukan hanya persoalan moral pribadi, melainkan dapat berkembang menjadi persoalan sosial apabila perilaku mengejar keuntungan dilakukan secara sistematis dan berdampak kepada banyak orang.

Kekayaan Tidak Salah, tetapi Cara Mendapatkannya Menentukan Nilainya

Menjadi kaya bukan sebuah kesalahan. Bahkan, kekayaan yang diperoleh melalui kerja keras, inovasi, usaha yang sehat, investasi yang bertanggung jawab, atau kegiatan ekonomi yang memberikan manfaat kepada masyarakat dapat menjadi kekuatan positif. Pengusaha yang berhasil membangun perusahaan dapat menyediakan pekerjaan bagi ribuan orang. Investor dapat membantu perusahaan berkembang.

Orang kaya juga dapat menggunakan sumber dayanya untuk mendukung pendidikan, penelitian, pelayanan sosial, kebudayaan, atau perlindungan lingkungan. Dalam konteks tersebut, kekayaan menjadi alat yang memperbesar kemampuan seseorang untuk memberikan manfaat. Persoalan moral bukan terletak pada jumlah uang yang dimiliki, melainkan pada bagaimana kekayaan diperoleh, bagaimana kekuasaan yang menyertainya digunakan, dan apakah keberhasilan tersebut mengorbankan hak orang lain.

Karena itu, penting membedakan antara ambisi dan keserakahan. Ambisi mendorong seseorang bekerja lebih keras, menciptakan inovasi, belajar, dan menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Keserakahan justru membuat seseorang merasa berhak mengambil sebanyak mungkin tanpa memikirkan akibatnya bagi orang lain. Ambisi masih mengenal batas etika, sedangkan keserakahan cenderung melihat batas tersebut sebagai hambatan yang harus disingkirkan.

Kekayaan yang sehat seharusnya menciptakan nilai, bukan sekadar memindahkan keuntungan dari kelompok yang lemah kepada kelompok yang kuat. Prinsip pembangunan yang inklusif juga menekankan pentingnya manfaat pertumbuhan ekonomi yang dapat dirasakan secara lebih luas, bukan hanya terkonsentrasi pada kelompok tertentu.¹

Menjaga Sesama Manusia di Tengah Persaingan Ekonomi

Kehidupan modern memang membuat persaingan ekonomi semakin kuat. Orang dituntut produktif, perusahaan dituntut menghasilkan keuntungan, pekerja dituntut meningkatkan keterampilan, dan negara dituntut meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Persaingan tersebut tidak selalu buruk karena dapat mendorong inovasi dan efisiensi. Namun, persaingan akan menjadi berbahaya ketika manusia mulai diperlakukan hanya berdasarkan nilai ekonominya. 

Orang yang menghasilkan banyak uang dianggap lebih berharga, sementara mereka yang miskin atau tidak produktif dianggap sebagai beban. Cara berpikir seperti itu mengabaikan kenyataan bahwa kehidupan masyarakat dibangun melalui kontribusi banyak orang yang tidak selalu dapat diukur dengan uang. Guru, petani, perawat, pekerja kebersihan, relawan, pengasuh keluarga, dan berbagai profesi lainnya memiliki kontribusi yang sangat penting bagi kehidupan bersama.

Menjaga sesama manusia berarti memahami bahwa keberhasilan pribadi memiliki hubungan dengan kondisi masyarakat secara keseluruhan. Seseorang mungkin dapat menikmati rumah mewah, kendaraan mahal, atau rekening yang besar, tetapi kehidupan tetap tidak nyaman jika lingkungan sosial dipenuhi konflik, ketidakpercayaan, kriminalitas, kemiskinan, dan ketimpangan ekstrem. 

Perserikatan Bangsa-Bangsa menempatkan solidaritas sebagai nilai penting dalam menghadapi kemiskinan, ketimpangan, serta berbagai tantangan sosial dan ekonomi.⁵ Solidaritas tidak berarti setiap orang harus memberikan seluruh hartanya kepada orang lain. Solidaritas berarti menyadari bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral untuk tidak memperburuk kehidupan orang lain demi keuntungan pribadi. Dengan kesadaran tersebut, aktivitas ekonomi dapat berjalan bersama dengan kepedulian sosial.

Mengubah Cara Pandang terhadap Kesuksesan dan Kekayaan

Salah satu persoalan terbesar masyarakat modern adalah kecenderungan mengukur keberhasilan melalui simbol material. Rumah besar, kendaraan mahal, pakaian bermerek, jabatan tinggi, jumlah pengikut di media sosial, dan saldo rekening sering dijadikan indikator keberhasilan seseorang. Tidak ada yang salah dengan memiliki semua itu, tetapi masalah muncul ketika simbol tersebut menjadi satu-satunya ukuran harga diri. 

Seseorang akhirnya bekerja tanpa henti bukan karena membutuhkan uang, melainkan karena takut terlihat kalah dari orang lain. Dalam keadaan seperti itu, kekayaan dapat menjadi perlombaan tanpa garis akhir. Semakin banyak yang dimiliki, semakin tinggi standar yang ingin dicapai. Akibatnya, manusia kehilangan kemampuan untuk mengatakan “cukup” dan mulai mengorbankan waktu bersama keluarga, kesehatan, persahabatan, bahkan prinsip moral demi mempertahankan status.

Ukuran kesuksesan yang lebih sehat seharusnya mencakup pertanyaan yang lebih luas: dari mana kekayaan diperoleh, siapa yang mendapatkan manfaat, siapa yang mungkin dirugikan, dan apa yang ditinggalkan bagi generasi berikutnya? Kekayaan yang dibangun dengan merusak kehidupan orang lain mungkin terlihat besar secara nominal, tetapi miskin secara sosial dan moral. 

Sebaliknya, keberhasilan yang menciptakan pekerjaan layak, mendukung keluarga, membantu masyarakat, menjaga lingkungan, dan membangun kepercayaan memiliki nilai yang lebih panjang. OECD menunjukkan bahwa hubungan sosial yang kooperatif dan kepercayaan memiliki kaitan dengan kesejahteraan serta kohesi sosial.² Dengan demikian, kesuksesan tidak harus dipertentangkan dengan kepedulian. Justru kekayaan dapat menjadi lebih bermakna ketika digunakan untuk memperluas manfaat, bukan sekadar memperbesar kepemilikan pribadi.

Menemukan Keseimbangan antara Kepentingan Pribadi dan Kepentingan Bersama

Setiap manusia memiliki hak untuk mengejar kehidupan yang lebih baik. Tidak realistis mengharapkan seseorang mengabaikan kebutuhan pribadi demi kepentingan orang lain sepanjang waktu. Keluarga perlu dinafkahi, bisnis perlu menghasilkan keuntungan, investasi perlu memberikan hasil, dan pekerjaan perlu dihargai secara layak. Namun, kebebasan mengejar keuntungan selalu memiliki konsekuensi terhadap lingkungan sosial. Karena itu, kepentingan pribadi perlu ditempatkan dalam kerangka tanggung jawab. 

Pengusaha perlu mempertimbangkan pekerjanya, konsumen, masyarakat sekitar, dan lingkungan. Pekerja perlu menjaga profesionalitas dan kejujuran. Konsumen juga perlu mempertimbangkan dampak dari pilihan ekonominya. Pemerintah memiliki tanggung jawab menciptakan aturan yang mencegah eksploitasi dan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak menghasilkan ketimpangan yang semakin parah.

Keseimbangan tersebut pada akhirnya membutuhkan kesadaran bahwa manusia bukan sekadar makhluk ekonomi. Kita adalah makhluk sosial yang kehidupannya bergantung pada jaringan hubungan dengan orang lain. Tidak ada kekayaan yang benar-benar dapat dinikmati sendirian karena keamanan, kesehatan, pendidikan, transportasi, pangan, dan berbagai kebutuhan kehidupan semuanya bergantung pada kerja banyak manusia. 

Bahkan kepercayaan masyarakat merupakan modal sosial yang sangat penting bagi hubungan ekonomi dan kehidupan bersama.² Ketika manusia memahami kenyataan tersebut, mengejar kekayaan tidak lagi harus berarti mengalahkan orang lain. Kekayaan dapat dikejar dengan cara menciptakan nilai, berbagi kesempatan, membangun usaha yang bertanggung jawab, serta memastikan bahwa keberhasilan pribadi tidak berubah menjadi penderitaan bagi sesama.

Kekayaan yang Bermakna adalah Kekayaan yang Tidak Kehilangan Kemanusiaan

Pada akhirnya, persoalan sebenarnya bukan apakah seseorang boleh menjadi kaya, melainkan apakah kekayaan telah mengalahkan kemanusiaannya. Uang dapat membeli rumah, tetapi tidak otomatis membeli rasa aman. Uang dapat membeli makanan, tetapi tidak selalu membeli kesehatan. Uang dapat membeli hiburan, tetapi tidak menjamin kebahagiaan. 

Uang dapat membeli banyak barang, tetapi tidak otomatis menghadirkan kepercayaan dan penghormatan dari orang lain. Ketika seseorang rela mengorbankan manusia lain demi mendapatkan lebih banyak kekayaan, sesungguhnya ia sedang membayar harga yang sangat mahal untuk sesuatu yang belum tentu memberinya kehidupan yang lebih baik. Kekayaan yang kehilangan empati pada akhirnya dapat menciptakan kesepian, konflik, ketidakpercayaan, dan masyarakat yang semakin terfragmentasi.

Karena itu, mengejar kesejahteraan seharusnya berjalan bersama dengan kewajiban menjaga sesama manusia. Tidak perlu menunggu menjadi miliarder untuk membantu orang lain. Kepedulian dapat dimulai dari membayar pekerja secara layak, tidak menipu konsumen, tidak merusak lingkungan, membantu tetangga, memberikan kesempatan kepada orang lain, berbagi ilmu, dan menggunakan kekuasaan secara bertanggung jawab. Solidaritas menjadi nyata ketika manusia bersedia melihat keberhasilan bukan hanya dari apa yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga dari apa yang berhasil diberikan. 

Perserikatan Bangsa-Bangsa menekankan bahwa masa depan bersama bergantung pada kemampuan manusia untuk bertindak bersama dalam menghadapi persoalan kemiskinan, ketimpangan, dan pembangunan sosial.⁵ Pada titik inilah kekayaan menemukan makna sebenarnya: bukan ketika jumlahnya semakin besar, tetapi ketika keberadaannya membuat kehidupan manusia lain menjadi sedikit lebih baik.

Daftar Sumber

  1. World Bank, Poverty, Prosperity, and Planet Report 2024, mengenai pentingnya shared prosperity dan keterbatasan pertumbuhan pendapatan rata-rata sebagai ukuran pembangunan.
  2. OECD, For Good Measure: Advancing Research on Well-being Metrics Beyond GDP, mengenai hubungan kepercayaan, hubungan sosial, pertumbuhan ekonomi, kohesi sosial, dan kesejahteraan.
  3. World Bank, Poverty and Inequality, mengenai hubungan ketimpangan, kemiskinan, peluang ekonomi, dan pembangunan.
  4. OECD, Society at a Glance 2024, mengenai indikator kohesi sosial seperti partisipasi masyarakat, rasa aman, kepuasan hidup, dan kepercayaan terhadap institusi.
  5. United Nations, International Human Solidarity Day, mengenai solidaritas manusia sebagai nilai penting dalam menghadapi kemiskinan, ketimpangan, dan pembangunan sosial-ekonomi.
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments