Karl Marx, Kelas Sosial, dan Relevansinya dalam Fenomena Urbanisasi Modern

Karl Marx, Kelas Sosial, dan Relevansinya dalam Fenomena Urbanisasi Modern
Karl Marx, Kelas Sosial, dan Relevansinya dalam Fenomena Urbanisasi Modern (Foto: Pixabay)

MYSEKERTARIS.MY.ID - Ketika kamu melihat gedung-gedung pencakar langit berdiri megah di pusat kota, apartemen eksklusif dengan harga fantastis, serta deretan kawasan kumuh yang berdempetan tak jauh dari pusat bisnis, satu pertanyaan mendasar muncul: mengapa kesenjangan sosial begitu nyata di kota-kota modern? Urbanisasi sering dipromosikan sebagai simbol kemajuan, pertumbuhan ekonomi, dan peluang baru. Namun di balik gemerlap lampu kota, ada realitas keras tentang kelas sosial, akses ekonomi, dan ketimpangan struktural.

Di sinilah pemikiran Karl Marx kembali terasa relevan. Meski hidup di abad ke-19, Marx menulis tentang kelas sosial, relasi produksi, dan konflik antara pemilik modal dan pekerja dengan analisis yang masih terasa hidup hingga hari ini. Urbanisasi modern bukan sekadar perpindahan penduduk dari desa ke kota, tetapi juga panggung baru bagi dinamika kelas sosial yang sudah lama ia bahas.

Siapa Karl Marx dan Apa Itu Teori Kelas Sosial?

Karl Marx adalah filsuf, ekonom politik, dan teoritikus sosial yang lahir pada 1818 di Jerman. Bersama rekannya, Friedrich Engels, ia menulis berbagai karya penting yang membedah struktur kapitalisme, termasuk The Communist Manifesto dan Das Kapital. Dalam karya-karyanya, Marx menekankan bahwa masyarakat kapitalis terbagi dalam kelas-kelas sosial berdasarkan kepemilikan alat produksi.

Menurut Marx, dua kelas utama dalam kapitalisme adalah borjuasi (pemilik modal) dan proletariat (pekerja yang menjual tenaga kerjanya). Kelas sosial bukan sekadar soal gaya hidup atau status, tetapi soal posisi dalam struktur ekonomi. Siapa yang memiliki pabrik, tanah, atau modal, dan siapa yang hanya memiliki tenaga kerja untuk dijual—itulah inti pembagian kelas menurut Marx.

Urbanisasi Modern: Kota sebagai Magnet Ekonomi

Urbanisasi modern ditandai dengan perpindahan besar-besaran penduduk ke kota demi mencari pekerjaan, pendidikan, dan peluang hidup yang lebih baik. Kota menjadi pusat industri, jasa, teknologi, dan pemerintahan. Infrastruktur berkembang pesat, investasi mengalir, dan ekonomi tumbuh lebih cepat dibanding wilayah pedesaan.

Namun pertumbuhan ini tidak selalu merata. Ketika jutaan orang datang ke kota dengan harapan memperbaiki hidup, tidak semua berhasil naik kelas secara ekonomi. Banyak yang akhirnya terjebak dalam pekerjaan informal, upah rendah, dan kondisi hunian yang tidak layak. Kota menjadi ruang kompetisi keras yang memperjelas perbedaan kelas sosial.

Kelas Sosial dalam Lanskap Perkotaan

Jika kamu berjalan di kota besar, pembagian kelas sosial terlihat jelas dalam ruang fisik. Kawasan elit dengan keamanan ketat dan fasilitas lengkap berdiri tidak jauh dari permukiman padat dengan sanitasi minim. Harga properti yang melonjak membuat kelas pekerja semakin sulit memiliki hunian di pusat kota.

Dalam kacamata Marx, ini bukan kebetulan. Distribusi ruang kota mencerminkan distribusi kekuasaan ekonomi. Mereka yang memiliki modal dapat mengontrol tanah, properti, dan proyek pembangunan. Sementara itu, pekerja harus menyesuaikan diri dengan harga pasar yang terus naik, sering kali terpinggirkan ke pinggiran kota atau kawasan kumuh.

Gentrifikasi dan Perpindahan Kelas Pekerja

Salah satu fenomena urban modern adalah gentrifikasi, yaitu proses ketika kawasan lama yang sebelumnya dihuni kelas pekerja direnovasi dan diubah menjadi kawasan komersial atau hunian kelas menengah atas. Harga sewa melonjak, dan penduduk lama terpaksa pindah karena tidak mampu membayar biaya hidup yang meningkat.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana logika pasar dan akumulasi modal memengaruhi struktur sosial kota. Bagi Marx, akumulasi modal selalu mencari ruang baru untuk ekspansi. Kota menjadi ladang investasi properti, bukan sekadar tempat tinggal. Akibatnya, kelas pekerja sering kehilangan akses terhadap ruang yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Urbanisasi dan Pasar Tenaga Kerja

Kota memang menyediakan lebih banyak lapangan kerja, tetapi juga menciptakan persaingan yang ketat. Banyak pekerja migran dari desa yang masuk ke sektor informal: pedagang kaki lima, buruh bangunan, pekerja lepas, hingga pekerja platform digital. Mereka menjadi bagian dari apa yang disebut Marx sebagai “cadangan tenaga kerja.”

Konsep cadangan tenaga kerja menggambarkan kondisi di mana selalu ada surplus pekerja yang siap menggantikan pekerja lain. Dalam konteks urbanisasi, hal ini menekan upah dan memperlemah posisi tawar pekerja. Jika satu orang menolak pekerjaan dengan upah rendah, ada banyak orang lain yang siap menggantikan karena kebutuhan ekonomi mendesak.

Infrastruktur Megah dan Ketimpangan Struktural

Pembangunan infrastruktur besar-besaran sering dijadikan simbol kemajuan kota: jalan tol, MRT, pusat perbelanjaan, dan kawasan bisnis terpadu. Namun siapa yang paling diuntungkan dari proyek-proyek ini? Apakah seluruh lapisan masyarakat merasakan manfaat yang sama?

Dalam perspektif Marx, pembangunan dalam sistem kapitalisme cenderung mengikuti kepentingan pemilik modal. Infrastruktur memang membuka akses ekonomi, tetapi juga dapat meningkatkan nilai properti dan keuntungan bagi investor besar. Sementara itu, kelas pekerja tetap menghadapi biaya hidup yang meningkat tanpa kenaikan pendapatan yang sebanding.

Urbanisasi, Konsumerisme, dan Kesadaran Kelas

Kota modern juga identik dengan budaya konsumsi: pusat perbelanjaan, gaya hidup urban, dan simbol status sosial. Konsumerisme sering kali menciptakan ilusi mobilitas kelas. Kamu mungkin merasa “naik kelas” karena bisa menikmati produk tertentu, padahal posisi struktural dalam sistem ekonomi tidak banyak berubah.

Marx menyebut bahwa dalam kapitalisme, relasi sosial sering disamarkan oleh relasi komoditas. Barang dan gaya hidup menjadi simbol identitas, sehingga konflik kelas tampak samar. Namun ketimpangan pendapatan, akses pendidikan, dan kepemilikan aset tetap menjadi pembeda utama antara kelas sosial di kota.

Apakah Teori Marx Masih Relevan Hari Ini?

Sebagian orang menganggap teori Marx sudah usang karena lahir di era industri berat. Namun urbanisasi modern menunjukkan bahwa dinamika kelas sosial tetap hidup. Perbedaan akses terhadap hunian, pendidikan berkualitas, layanan kesehatan, dan pekerjaan layak masih sangat dipengaruhi oleh posisi ekonomi seseorang.

Banyak studi sosiologi dan ekonomi perkotaan hari ini masih menggunakan konsep kelas sosial untuk menganalisis ketimpangan. Meskipun struktur ekonomi telah berubah dengan hadirnya teknologi dan sektor jasa, relasi antara pemilik modal dan pekerja tetap menjadi fondasi sistem. Dalam hal ini, pemikiran Marx tetap menjadi alat analisis yang kuat.

Tantangan Urbanisasi di Negara Berkembang

Di banyak negara berkembang, urbanisasi terjadi sangat cepat tanpa perencanaan matang. Kota tumbuh lebih cepat daripada kemampuan pemerintah menyediakan perumahan, transportasi, dan layanan publik. Akibatnya, muncul kawasan kumuh, kemacetan parah, dan ketimpangan sosial yang tajam.

Dalam konteks ini, teori kelas sosial membantu memahami bahwa masalah urban bukan sekadar teknis, tetapi struktural. Ketika distribusi sumber daya tidak merata dan kebijakan lebih berpihak pada investasi besar dibanding kebutuhan dasar warga, maka ketimpangan akan terus berulang. Kota menjadi cermin struktur ekonomi nasional.

Masa Depan Kota dan Kesadaran Sosial

Urbanisasi tidak bisa dihentikan, tetapi bisa diarahkan. Kota bisa menjadi ruang inklusif yang memberi kesempatan setara, atau justru menjadi simbol ketimpangan ekstrem. Semua tergantung pada bagaimana kebijakan publik, regulasi pasar, dan distribusi sumber daya diatur.

Memahami pemikiran Karl Marx bukan berarti kamu harus menerima seluruh gagasannya secara mutlak. Namun melihat kota melalui lensa kelas sosial membantu kamu lebih kritis terhadap realitas di sekitar. Ketika kamu menyadari bahwa gedung tinggi dan kawasan kumuh adalah bagian dari sistem yang sama, kamu mulai melihat bahwa urbanisasi bukan sekadar soal perpindahan penduduk, melainkan tentang struktur kekuasaan ekonomi.

Pada akhirnya, kota modern adalah panggung besar tempat kelas sosial berinteraksi, berkompetisi, dan terkadang berkonflik. Dua abad lalu, Marx sudah mengingatkan bahwa selama kepemilikan dan kekuasaan ekonomi terkonsentrasi pada segelintir pihak, ketimpangan akan terus muncul dalam berbagai bentuk. Urbanisasi modern hanyalah bab terbaru dari cerita panjang tentang kelas sosial dan perjuangan mencari keadilan dalam ruang bernama kota.

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments