![]() |
| Karl Marx dan Dunia Digital: Apakah Eksploitasi Kini Tersembunyi di Balik Teknologi? (Foto: Pixabay) |
MYSEKERTARIS.MY.ID - Dunia digital memberikan kita kenyamanan dan kebebasan yang belum pernah ada sebelumnya. Kamu bisa bekerja dari rumah, membeli apa pun hanya dengan satu klik, dan berkomunikasi dengan siapa saja dari seluruh dunia. Sekilas, teknologi terlihat seperti puncak peradaban modern yang membebaskan manusia dari batas ruang dan waktu. Namun, apakah benar kita semakin bebas? Atau justru semakin terikat pada sistem yang tidak terlihat?
Jika Karl Marx hidup di era digital, mungkin ia akan berkata bahwa exploitation atau eksploitasi masih ada, hanya saja bentuknya jauh lebih halus dan terselubung. Tidak lagi dalam bentuk kerja pabrik yang keras, tetapi dalam bentuk algoritma, data, likes, dan engagement yang mencuri waktu, perhatian, dan bahkan identitas kita. Teknologi digital bukan hanya alat, tetapi juga sistem yang membentuk cara kita berpikir dan bekerja. Tak heran, para pemikir modern menyebutnya sebagai bentuk baru dari kapitalisme: kapitalisme digital.
Karl Marx dan Konsep Eksploitasi dalam Kapitalisme
Karl Marx menjelaskan bahwa kapitalisme bekerja dengan mengambil surplus value atau nilai lebih dari tenaga kerja. Para pekerja menghasilkan nilai, tetapi hanya dibayar sebagian kecil, sedangkan pemilik modal menikmati keuntungannya. Marx mengatakan bahwa inilah inti dari eksploitasi: ketika tenaga manusia dijadikan komoditas untuk menghasilkan laba.
Namun eksploitasi menurut Marx bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal kesadaran. Kapitalisme menciptakan false consciousness, kesadaran palsu yang membuat kita merasa bahwa semua keadaan itu normal, padahal sebenarnya kita sedang tertindas. Ini mirip dengan kondisi manusia modern yang sangat aktif mengonsumsi teknologi, tanpa sadar bahwa dirinya menjadi produk.
Pada masa Marx, alat produksi adalah mesin pabrik dan lahan industri. Tetapi di era digital, alat produksi berubah menjadi data, algoritma, dan platform digital seperti Google, TikTok, Facebook, atau Instagram. Dan yang mengejutkan, kini manusialah yang menjadi produknya.
Eksploitasi di Era Digital: Tanpa Kamu Sadari, Waktumu Jadi Komoditas
Di dunia digital, kamu mungkin merasa gratis menggunakan media sosial atau aplikasi streaming. Tetapi kenyataannya, kamu membayar dengan waktu, perhatian, dan data pribadi. Platform digital mendapatkan keuntungan besar dari iklan yang ditampilkan berdasarkan minat dan perilaku online kamu.
Menurut Christian Fuchs, seorang profesor kajian media komunikasi, dalam bukunya Digital Labour and Karl Marx (2014), ia menyatakan bahwa scrolling media sosial, memberi like, atau membalas komentar sebenarnya adalah bentuk kerja digital. Kamu secara tidak sadar membantu platform menghasilkan keuntungan, tanpa dibayar sepeser pun. Artinya, kamu menjadi pekerja, tetapi tidak pernah dianggap sebagai pekerja.
Shoshana Zuboff, profesor dari Harvard, dalam buku The Age of Surveillance Capitalism (2019), mengatakan bahwa raksasa teknologi seperti Google dan Facebook tidak hanya mengumpulkan data, tetapi juga memprediksi dan memengaruhi perilaku manusia. Teknologi tidak lagi hanya melayani kamu, tetapi mengarahkan kamu agar terus terjebak dalam sistem konsumsi.
Inilah bentuk baru eksploitasi: eksploitasi digital. Tidak terlihat, tidak dipaksa, tetapi mengikat secara psikologis dan sosial.
Marx dan Alienasi di Dunia Digital
Karl Marx juga membahas tentang alienasi (keterasingan), yaitu kondisi ketika manusia merasa terpisah dari dirinya sendiri karena tidak lagi mengendalikan proses kerja maupun hasilnya. Di era digital, alienasi semakin kuat. Kamu mungkin sibuk membuat konten, membangun personal branding, atau mencari validasi melalui likes dan followers, tetapi semakin kehilangan jati diri.
Herbert Marcuse, tokoh Teori Kritis dalam bukunya One-Dimensional Man (1964), menyatakan bahwa teknologi membuat manusia menjadi “makhluk satu dimensi”—yang hanya fokus pada konsumsi dan produksi, tanpa berpikir kritis. Kamu tidak sadar bahwa aktivitas digitalmu sudah dikendalikan oleh logika kapitalisme: semakin banyak engagement, semakin besar keuntungan bagi platform.
Inilah alienasi versi digital: ketika kamu merasa bebas di dunia maya, tetapi sebenarnya sedang diarahkan, dikendalikan, dan diproses menjadi komoditas yang bernilai.
Gig Economy dan Bentuk Baru Eksploitasi Tenaga Kerja
Selain pengguna media sosial, pekerja digital juga menghadapi bentuk eksploitasi baru dalam gig economy, seperti driver online, freelancer platform, content creator, dan digital marketer. Mereka bekerja tanpa kontrak tetap, tanpa jaminan kesehatan, tanpa batas waktu kerja, tetapi sistem tetap menuntut produktivitas tinggi.
Menurut Antonio Casilli, profesor sosiologi digital dalam bukunya En Attendant les Robots (2019), pekerja digital bukan dibebaskan oleh teknologi, tetapi justru terjebak dalam algoritma yang menentukan upah, jam kerja, dan bahkan peluang keberhasilan.
Kerjanya fleksibel, tetapi kehidupannya tidak pasti. Inilah eksploitasi modern yang tidak selalu terlihat sebagai penindasan, tetapi sering dibungkus sebagai “peluang”.
Apakah Teknologi Bisa Membebaskan Manusia?
Tidak semua teori menyatakan bahwa teknologi itu menindas. Jürgen Habermas, salah satu penerus Teori Kritis, mengatakan bahwa teknologi juga bisa menjadi alat emansipasi jika digunakan untuk menciptakan ruang publik yang sehat, tempat orang berdialog, belajar, dan berpikir kritis. Namun, ini hanya bisa terjadi jika teknologi tidak sepenuhnya dikuasai oleh kepentingan kapital.
Artinya, teknologi bisa membebaskan manusia, tetapi hanya jika manusia tidak tunduk pada logika konsumsi dan eksploitasi.
Kesimpulan: Eksploitasi Belum Hilang, Hanya Berganti Wajah
Karl Marx mungkin tidak pernah membayangkan hadirnya TikTok, YouTube, atau AI. Namun ide-idenya tetap relevan karena esensi kapitalisme masih sama: mencari keuntungan dari tenaga kerja manusia, bahkan kini dari perhatian, waktu, dan pikiran manusia.
Eksploitasi tidak lagi selalu soal pabrik dan mesin, tetapi soal data, algoritma, dan platform yang bekerja diam-diam mengumpulkan nilai dari aktivitas kita sehari-hari. Dunia digital terlihat bebas, tetapi sesungguhnya justru lebih penuh kontrol.
Pertanyaannya bukan lagi: apakah kita gratis menggunakan teknologi?
Tetapi: apakah teknologi yang sedang menggunakan kita?
“Jika kamu tidak membayar produknya, maka sebenarnya kamu adalah produknya.” Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance Capitalism.


0 Comments