Dari Ambisi ke Ketamakan: Mengapa Banyak Orang Mengorbankan Moral Demi Materi?

Dari Ambisi ke Ketamakan: Mengapa Banyak Orang Mengorbankan Moral Demi Materi?
Ilustrasi Ketamakan (Foto: Pixabay)

MYSEKERTARIS.MY.ID - Ambisi adalah bahan bakar yang mendorong seseorang untuk terus berkembang, mencapai impian, dan menciptakan perubahan positif. Namun, ketika ambisi tidak lagi dibarengi dengan moral dan empati, ia perlahan berubah menjadi ketamakan. Kamu pasti pernah melihat orang yang awalnya bekerja keras secara jujur, tetapi ketika mulai meraih kesuksesan, mereka justru tergoda untuk menghalalkan segala cara demi materi dan kekuasaan. Inilah titik di mana ambisi berubah menjadi obsesi yang membutakan.

Menurut psikolog terkenal Abraham Maslow, manusia memiliki kebutuhan bertingkat, mulai dari kebutuhan dasar hingga aktualisasi diri. Namun, ketika seseorang terlalu terobsesi pada kebutuhan materi, mereka terjebak pada level rendah dan gagal naik ke tingkat moral dan kemanusiaan. Dengan kata lain, terlalu fokus pada uang dan status membuat seseorang lupa bahwa ada hal yang jauh lebih berharga dari itu, kejujuran, integritas, dan empati.

Ketamakan dan Ilusi Kebahagiaan

Ketamakan sering lahir dari ilusi bahwa semakin banyak materi yang dimiliki, semakin bahagia hidup seseorang. Padahal, menurut ilmuwan perilaku Daniel Kahneman, kebahagiaan tidak semata berasal dari harta, melainkan dari hubungan sosial yang sehat, rasa aman, dan makna hidup. Banyak orang kaya tetap merasa gelisah, karena mereka hidup dalam ketakutan kehilangan yang mereka miliki. Ini membuktikan bahwa ketamakan hanya menciptakan kekosongan batin, bukan kepuasan.

Kamu mungkin pernah melihat seseorang yang sudah cukup sukses, tetapi tetap merasa kurang. Mereka terus mengejar lebih banyak uang, lebih banyak kekuasaan, lebih banyak pengakuan. Padahal masalahnya bukan pada jumlah yang mereka miliki, tetapi pada ketidakmampuan mereka merasa cukup. Seperti kata filsuf Epictetus, “Bukan orang yang memiliki sedikit yang miskin, tetapi orang yang selalu merasa kurang.”

Tekanan Sosial dan Budaya Materialistik

Di era media sosial, gaya hidup glamor sering dijadikan tolok ukur kesuksesan. Banyak orang mulai mengukur harga diri berdasarkan apa yang terlihat: mobil mewah, liburan ke luar negeri, branded outfit, atau penghasilan besar. Tanpa sadar, kamu hidup dalam budaya konsumtif dan materialistik yang kerap memicu stres, rasa iri, bahkan keinginan untuk mengambil jalan pintas demi mencapai standar sosial tersebut.

Pendapat dari sosiolog Thorstein Veblen menyebut fenomena ini sebagai “conspicuous consumption” atau konsumsi mencolok, gaya hidup di mana orang membeli sesuatu bukan karena kebutuhan, tetapi demi status sosial. Ketika seseorang terjebak dalam pola ini, mereka bisa rela mengorbankan moral, menipu, bahkan melakukan korupsi demi mempertahankan citra dan gengsi.

Ambisi Sehat vs Ketamakan Berbahaya

Ambisi sehat adalah ketika kamu ingin berkembang dengan cara yang baik, tanpa merugikan orang lain. Namun, ketamakan muncul ketika kamu ingin menang dengan cara apa pun, bahkan jika itu menyakiti atau merugikan orang di sekitarmu. Banyak ilmuwan perilaku menyebut fenomena ini sebagai “moral disengagement” proses ketika seseorang memisahkan tindakan dari nilai-nilai moralnya, dan tidak lagi merasa bersalah meskipun melakukan kesalahan.

Menurut Albert Bandura, moral disengagement ini membuat seseorang merasa tindakannya wajar, meskipun jelas salah. Misalnya, mereka berkata, “Semua orang juga begitu” atau “Kalau saya nggak ambil kesempatan ini, saya rugi.” Cara berpikir seperti ini yang membuat ambisi sehat berubah menjadi ketamakan.

Ketika Materi Menjadi Segalanya

Kamu mungkin tidak sadar, tetapi masyarakat sering menilai kesuksesan berdasarkan materi. Saat seseorang meraih jabatan tinggi atau pendapatan besar, mereka dipuji, dihormati, bahkan dijadikan panutan—tanpa melihat bagaimana cara mereka mendapatkannya. Ketika materi menjadi ukuran utama kesuksesan, maka moral sering dikesampingkan.

Padahal, menurut filsuf Immanuel Kant, manusia seharusnya tidak menggunakan orang lain sebagai alat untuk mencapai tujuan pribadi. Ketika kamu menghalalkan segala cara demi keuntungan, kamu bukan hanya mengorbankan moral, tetapi juga merendahkan nilai kemanusiaanmu sendiri.

Dampak Ketamakan terhadap Kehidupan dan Relasi

Ketamakan tidak hanya merusak moral, tetapi juga menghancurkan hubungan sosial. Orang yang terlalu berorientasi materi sering menjadi egois, tidak lagi peduli pada rasa kepercayaan dan loyalitas. Teman berubah menjadi pesaing, rekan kerja dianggap alat menuju kesuksesan, dan keluarga pun bisa terasa seperti beban. Ketamakan menciptakan kesuksesan semu tetapi menyisakan kesepian dan kekosongan.

Menurut riset psikologis dari University of Minnesota, orang yang memiliki ambisi sehat cenderung merasa bahagia dan memiliki hubungan sosial yang harmonis. Sebaliknya, orang yang dikuasai ketamakan cenderung stres, mudah cemas, dan rentan depresi, meskipun secara finansial terlihat sukses.

Cara Mencegah Ambisi Menjadi Ketamakan

Untuk tetap berada di jalur ambisi sehat, kamu perlu menanamkan beberapa prinsip dalam hidupmu:

Pertama, tentukan batas kapan kamu merasa cukup. Tidak semua hal harus dikejar sampai kamu kehilangan kesehatan, waktu, dan kebahagiaan. Kedua, ingat bahwa kesuksesan sejati bukan hanya soal berapa banyak yang kamu miliki, tetapi seberapa bermanfaat kamu untuk orang lain. Ketiga, selalu tanyakan pada dirimu: “Apakah cara yang aku lakukan ini masih benar?” Jika jawabannya tidak, maka kamu sudah berjalan terlalu jauh.

Filsuf Aristoteles menyebut kebijaksanaan sebagai kunci menjaga keseimbangan antara ambisi dan moral. Artinya, kamu boleh mengejar kesuksesan, tetapi harus tetap berpijak pada kebaikan dan nilai kemanusiaan.

Penutup: Pilih Jalan Ambisi, Bukan Ketamakan

Ambisi adalah energi positif yang bisa mengantarkanmu pada kesuksesan. Namun, ketika ambisi berubah menjadi ketamakan, kamu bukan hanya kehilangan nilai moral, tetapi juga kehilangan jati dirimu sebagai manusia. Kamu mungkin bisa membeli segalanya, kecuali rasa damai, kepercayaan, dan kehormatan.

Pada akhirnya, pilihlah menjadi ambisius yang bijak, bukan tamak yang buta. Karena kesuksesan sejati bukan ketika kamu memiliki segalanya, melainkan ketika kamu tetap menjadi manusia yang bermoral, meskipun punya segalanya.

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments